Monday, September 5, 2016
Berlangganan

Nasib 3 Bocah Tanpa Orangtua di Karangasem Kedatangan Tamu ‘Istimewa’, Ini yang Terjadi!

Kisah pilu tiga bocah bersaudara yang hidup tanpa orangtua di Bukit Puncak Sari, Dusun Darmaji, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali mengundang simpati banyak kalangan.
Pemerintah pusat pun sampai turun tangan. Kebahagian menyelimuti wajah I Nyoman Ariya (14), I Ketut Sana (12), serta si bungsu I Wayan Sudirta  (4,5), Minggu (4/9/2016) pagi.
Ketiga bocah malang yang ditinggal kedua orangtuanya ini kedatangan belasan tamu "istimewa". Rumah sederhana di tengah perbukitan yang mereka tempati pun menjadi ramai.
Di pagi yang cerah itu, mereka mendapat kunjungan dari pejabat Kementrian Sosial RI serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Karangasem. Mereka datang untuk memberikan bantuan. 
Dalam kunjungan tersebut, Kemensos yang diwakili Kasubid Pengembangan Kapasitas pada Direktorat Penanggulangan Kemiskinan, Eko Priyatno, memberikan bantuan uang senilai Rp 17,5 juta. Masing-masing untuk perbaikan rumah Rp 15 juta dan peralatan rumah serta dapur Rp 2,5 juta.
Kemensos juga memberikan seragam sekolah untuk Nyoman Ariya dan Ketut Sana. Masing-masing mendapat dua setel seragam. Ariya saat ini duduk di kelas II SMP dan Sana kelas VI SD.
Wakil Bupati Karangasem, I Wayan Arthadipa, yang mendampingi Eko Priyatno sempat menawarkan kepada ketiga bocah tersebut untuk tinggal di Yayasan Yasa Kerti miliknya. Namun ketiga bocah tersebut menolaknya, dan lebih memilih tetap tinggal di Bukit Puncak Sari.
Sejak diberitakan harian Tribun Bali dan online www.tribun-bali.com, Jumat (3/9/2016) dan Sabtu (4/9/2016), banyak orang maupun lembaga yang terenyuh dengan perjuangan hidup Ariya dan adik-adiknya.
Bagaimana tidak, tiga bersaudara dengan usia sama-sama belia, bahkan yang bungsu masih balita, harus menjalani kerasnya kehidupan tanpa orangtua.
Mereka hidup bersama dengan segala kekurangan dan jauh dari keramaian. Untuk biaya sehari-hari dan sekolah, Ariya dan Sana terpaksa harus memburuh.
Ariya menjadi tukang penek nyuh (pemanjat kelapa) bagi warga sekitar dan Sana tukang sabit untuk memberi makan ternak milik keluarganya.
Ariya dan Sana harus berjalan kaki menuruni perbukitan hampir dua kilometer untuk pergi ke sekolahnya. Mereka hanya memakai seragam lusuh dan tanpa sepatu.
Setiap hari Ariya ikut membawa si bungsu Sudirta ikut ke sekolah hingga masuk ruangan kelas karena tak ada yang menjaganya di rumah. Ketiga bocah malang ini ditinggal ayah dan ibunya.
Ayahnya, I Nyoman Koka, meninggal dunia lima tahun lalu karena sakit. Sedangkan ibunya, Ni Wayan Sriyani, memilih untuk menikah lagi. Adapun kakak tertuanya, I Nengah Santa, merantau ke Jembrana sebagai buruk petik cengkih.
Santa sesekali pulang menjenguk ketiga adiknya sembari memberi uang. Kemarin, Santa pun pulang dan ikut menerima bantuan dari pemerintah. Eko Priyatno mengaku prihatin dengan kondisi tiga bocah tersebut.
Ia berharap bantuan yang diberikan dapat digunakan sesuai keperluan sehingga apa yang menjadi masalah bisa tertanggulangi.
Nengah Santa mewakili adik-adiknya mengucapkan terima kasih kepada Kemensos maupun Pemkab Karangasem.
Pemberian dana untuk perbaikan rumah dan peralatan dapur akan digunakan sebaik mungkin.