Thursday, September 1, 2016
Berlangganan

Mobil Limbah Kayu Indonesia - Luar Biasa! Mulai Rp 40 Jutaan Kamu Bisa Dapet Bugatti Veyron

Siapa sangka, ternyata Indonesia bisa membuat mobil dari limbah kayu, lho.
Usaha kreatif ini dicetuskan oleh Eko Lukistyanto.
Pria 43 tahun pemilik usaha "Tetap Jaya Art" di Desa Kemiri, Mojosongo, Boyolali.
Tetap Jaya Art memproduksi beragam miniatur dan mock-up atau replika mobil, motor, hingga becak dari limbah kayu jati.
Pengrajin kayu Tetap Jaya Art pernah membuat replika mobil sport di antaranya Harley Davidson, Bugatti Veyron dan Mercedez-Benz sesuai dengan ukuran aslinya.
Walaupun replika, tapi setiap lekuk, desain, corak hingga tekstur yang ada pada mobil dibuat sama dengan versi asli.
Di mobil replika ini, bagian-bagian seperti lingkar kemudi, pedal rem, tuas transmisi, dan jok pun bisa digerakkan.
Ternyata, usaha ini telah lama dirintis oleh ayahnya, yaitu Widodo.
Usaha ini berdiri sejak tahun 1994 setelah ayahnya pensiun sebagai perancang dekorasi di pabrik karung Delanggu, Klaten.
Awalnya, Widodo dan Eko hanya memproduksi kerajinan miniatur mobil dan motor dari kayu jati.
Barulah pada tahun 2005, muncul ide untuk membuat replika dari limbah kayu jati sesuai ukuran aslinya.
Hasil mock-up buatan Eko kemudian diikutsertakan dalam sebuah pameran kerajinan di Ibukota. Karyanya pun berhasil menarik minat sejumlah pembeli asing.
Kini, Tetap Jaya Art telah mempunyai pelanggan dari berbagai penjuru dunia. Di antaranya, Amerika, Inggris, Jerman, Spanyol, Itali dan negara-negara Eropa lainnya.
Pelanggan Eko di luar negeri kebanyakan adalah makelar. Meraka langsung memesan banyak.
Mock-up yang dibeli dari Eko biasanya dijual lagi ke pengusaha otomotif untuk dipajang di showroom atau pameran di Eropa dan Asia. Kalau mobil versi aslinya ditawarkan dengan harga hingga miliaran Rupiah, tidak dengan replikanya.
Sampai saat ini, usaha replika mobil dari limbah kayu jati milik Eko ini telah mengekspor hampir seratus replika mobil.
Bugatti Veyron dari kayu jati ini dibanderol sangat terjangkau, mulai dari Rp 40 jutaan. Harga yang diberikan sesuai dengan tingkat kesulitannya.
Bagi orang asing, harga tersebut dianggap tidak mahal karena hasil yang diperoleh lebih dari ekspektasi.
Bahka, karya ini dirasa lebih memuaskan dibanding kerajinan tangan buatan Amerika Serikat atau Eropa.