Thursday, August 18, 2016
Berlangganan

Wanita Sarjana Ber-IPK 3,49 Ini Lebih Memilih Jualan Jamu Keliling

Apa sih yang kamu pikirkan ketika ijazah sebagai seorang sarjana telah kamu pegang?
Cari pekerjaan, punya pekerjaan mapan, dan punya gaji yang rutin kamu terima setiap bulan?
Hampir semua orang pasti berpikir seperti itu. Tapi wanita yang satu ini ternyata berbeda. Ia punya sebuah pemikiran yang justru membuat banyak orang keheranan dan mengerutkan keningnya.
Seorang wanita pemegang ijazah Fisika ini justru lebih memilih untuk berjualan jamu keliling daripada mencari pekerjaan yang bisa menjanjikan penghasilan yang lebih mapan.
Sutriyani, nama wanita tersebut, merupakan sarjana Fisika lulusan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dengan IPK yang bahkan tinggi, yaitu 3,49.
Wanita yang kini menginjak usia 24 tahun tersebut tak tergiur dengan materi dan pekerjaan mapan yang mungkin bisa ia dapatkan sebagai seorang sarjana.
Alasan ia lebih memilih menjadi penjual jamu tradisional pun bisa membuat kita kagum. Usut punya usut, ibunda Sutriyani ternyata adalah seorang penjual jamu.
Lewat jamu, ibunya yang sudah 10 tahun berprofesi sebagai penjual jamu keliling bisa membiayai kuliahnya. Itulah salah satu alasan kenapa ia tak malu berjualan jamu tradisional.
Karena berkat jamu lah ia berhasil menyelesaikan kuliahnya. Lulus kuliah, Sutriyani sebenarnya sudah berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang diidamkan.
Sebelumnya ia pernah melamar sebagai staf rumah sakit, tapi tak diterima. Ia juga pernah sebulan menjadi tenaga yang diperbantukan di Kantor Pos untuk mengurus verifikasi pencairan dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS), tapi waktu yang melebihi jam kantor umumnya menjadikan ia mundur.
Waktu yang kurang fleksibel juga menjadi alasan lainnya memilih jalan untuk usaha. Lulusan SMK 1 Sewon Bantul jurusan boga ini juga pernah patungan dengan temannya untuk membangun usaha nasi goreng.
Tapi lantaran masih belum sreg akhirnya Sutriyani memutuskan untuk membangun usaha sendiri saja. Berjualan jamu menjadi pilihannya sendiri. Tak ada desakan dari ibunya. Sutriyani juga sempat menjadi bahan cibiran ketika dirinya memutuskan untuk berjualan jamu tradisonal.
Banyak orang yang mengejek dirinya, seorang sarjana tapi hanya berakhir sebagai penjual jamu tradisional. Tapi cibiran-cibiran itu tak lantas membuat dirinya patah arang.  Ia tak merasa malu dengan pekerjaan tersebut, karena baginya jamu adalah sumber penghidupan.
Sutriyani bahkan bangga menjadi penjual jamu. Menurutnya, zaman sekarang adalah zamannya orang berjualan jamu.
Lantaran sekarang makanan sudah banyak tercampuri bahan kimia, maka jamu jadi cara untuk bisa mengurangi bahan kimia yang ada dalam tubuh.
Meskipun ia merupakan sarjana pendidikan, tapi ia belum berniat untuk jadi guru. Salah satu alasannya adalah sulitnya mencari tempat untuk mengajar. Kesulitan itu pun bertambah ketika tidak ada channel yang bisa menghubungkan.