Monday, August 1, 2016
Berlangganan

Proyek Kontroversial Bernilai Ratusan Miliar, Peluru Hujan yang Ubah Cuaca Panas Jadi Hujan

Cuaca kemarau panjang dan terik matahari yang menyengat tentu saja membuat kita menjadi gerah dan emosi.
Ditambah lagi akibat cuaca kemarau sumber air mengering tentu saja pasti kita berharap agar hujan cepat turun untuk memberikan tetesan air kehidupan.
Dan juga sebaliknya, ketika cuaca hujan yang menyebabkan bencana banjir dan lain-lain dapat berganti menjadi panas.
Ternyata impian manusia tersebut tidak hanya mimpi belaka, karena para ilmuwan Tiongkok telah menggelontorkan dana ratusan miliar rupiah untuk dapat mengubah cuaca.
Meskipun proyek ini menuai kontoversial, karena dianggap menentang kekuasaan Tuhan dengan mengubah cuaca.
Tetapi tidak hanya Tiongkok beberapa negara besar lainnya juga ikut mengembangkan penemuan terbaru ini.
Setidaknya ada 52 negara termasuk Amerika Serikat yang menggunakan teknik modifikasi cuaca untuk mengubah cuaca panas menjadi hujan dan juga sebaliknya.
Proyek ini berbasis di Beijing, dan telah menghabiskan dana lebih dari Rp 330 miliar untuk mewujudkan sebuah peluru cuaca.
Peluru ini nantinya akan ditembakkan ke langit yang telah terisi garam dan kandungan mineral yang bisa mengubah awan menurunkan hujan.
Daerah yang sering dilanda kekeringan di Tiongkok menjadi salah satu kendala terbesar di bidang industri pertanian mereka. Inilah penyebab utama para ilmuwan bekerja keras untuk membasmi musim kemarau berkepanjangan.
Peluru cuaca ini nantinya akan menyebarkan bahan kimia buatan di langit.
Proses air hujan alami yaitu berasal dari partikel kelembaban udara yang menguap dan dingin pada partikel kecil berbentuk seperti debu yang membentuk awan.
Jika awan sudah terkumpul dalam jumlah yang banyak maka hujan akan mulai turun dengan sendirinya. 
Namun para ahli berharap dapat mempercepat proses hujan dari bawah. Dengan menembakkan bahan kimia ke awan yang dapat menurunkan suhu awan dan pada akhirnya akan memberikan jumlah kelembapan awan yang lebih banyak.
Mereka berharap dengan proses ini akan mempercepat proses hujan turun lebih cepat.
Walaupun begitu dilansir melalui laman express, Senin (1/8/2016) seperti dikutip wartawan Tribunkaltim.co, Ayuk Fitri, Bart Geerts seorang profesor ilmu atmosfer dari Universitas Wyoming mengatakan proyek ini mungkin bisa bekerja, tetapi tidak sepenuhnya optimis dengan hasilnya.
Menurutnya masih banyak yang harus dipikirkan dan diperhitungkan untuk menyempurnakan proyek ini. Selain itu ia mengatakan jika proyek ini bisa menurunkan hanya 10% curah hujan, mungkin hasilnya sebanding dengan biaya yang telah digelontarkan.