Monday, August 29, 2016
Berlangganan

Kisah Ayah Gendong Anaknya Sejauh 28 Km Setiap Hari ini Bikin Terharu, Mereka Hanya Hidup Bedua

Sebagai orang tua pasti akan melakukan berbagai cara untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Seperti yang dilakukan oleh seorang ayah bernama Yu Xukang, yang berasal dari China.
Setiap harinya, ia sanggup berjalan kaki sambil menggendong putra kesayangannya, Xiao Qiang (12) sejauh kira-kira 28 kilometer (km).
Dikutip dari laman mynewshub, ia menggendong Xiao Qiang setiap hari hanya agar anaknya itu bisa mendapatkan penidikan yang layak.
Tak peduli ia harus banting tulang mengantarnya, kembali ke kota untuk bekerja, dan kembali ke sekolah untuk menjemput putranya tersebut. Apa yang ia lakukan itu bukan tanpa alasan.
Sebab, Xiao Qiang dilahirkan dengan kondisi yang lain dari anak-anak pada umumnya. Meski kini usianya telah mencapat 12 tahun, namun Xiao masih belum bisa berjalan.
Tak ingin anaknya tidak sekolah hanya karena tidak bisa jalan, makanya Yu setiap hari menggendongnya ke sekolah. Yu menggendong anaknya itu di belakang dengan gendongan yang terbuat dari rotan.
Anaknya berdiri di gendongan itu, kemudian kedua tangannya dipegang oleh ayahnya agar tidak jatuh.
"Anakku tidak mampu berjalan sendiri, ini bermakna ia tidak boleh menunggang basikal. Selain itu, di usianya yang sudah 12 tahun, tingginya hanya 90 sentimeter,” kata ayahnya kepada media negara China.
Sejak berumur tiga tahun Yu hanya mengurus Xiao Qiang seorang diri, karena ia dan istrinya memutuskan untuk bercerai. Sebenarnya, Yu telah mendaftarkan anaknya itu ke beberapa sekolah biasa di kampung tempat mereka tinggal.
Namun, sekolah-sekolah tersebut menolak pendaftaran Xiao kerana dianggap tidak mampu belajar dan berinteraksi secara normal dengan pelajar lain. Akhinya ia terpaksa menyekolahkan putranya di sekolah yang berada sangat jauh dari rumahnya.
Itulah sebabnya si ayah rela berjalan kaki dan menggendong si anak setiap hari agar dia tetap bersekolah. Si ayah berkata, ia sudah menggendong anaknya itu sejak September tahun lalu.
Setiap pagi ia bangun pukul 05.00, dan menyiapkan bekalan makan tengahari kemudian menghantar ke sekolah dan kembali ke kampung untuk bekerja."Saya kemudian kembali ke sekolah untuk menjemput anak dan membawanya pulang," katanya.
Perjuangan si ayah yang begitu kuat dibayar dengan prestasi cemerlang yang diperoleh putranya. Walaupun seorang yang kurang upaya, dia masih dapat meraih ranking pertama di kelasnya. Hal ini membuat si ayah merasa bangga dengan anaknya itu.
Kisah mengharukan ayah dan anak ini yang tersebar melalui media hingga terdengar oleh Pemerintahan China. Dari sejak itu, Pemerintah China membuat tempat tinggal yang bedekatan dengan sekolah Xiao Qiang sehingga si ayah tidak perlu bersusah payah menggendong berpuluh-puluh kilometer seperti sebelum ini.