Wednesday, July 27, 2016
Berlangganan

Ditelantarkan Ibunya, Anak 10 Tahun Ini Jadi Tukang Batu Untuk Nafkahi Ayahnya Yang Cacat

Kisah yang sangat inspiratif ini sebenarnya adalah cerita lama. Tapi tidak ada salahnya jika kita mengingatnya kembali sebagai kisah yang menginspirasi.



Zhang Da nama bocah itu, masih berusia 10 tahun ketika sang ibu meninggalkannya pada tahun 2001. Malangnya lagi, ayah Zhang Da adalah seorang yang lumpuh dan sakit-sakitan, sehingga tidak ada yang mampu menafkahinya dengan baik. Tidak tahan dengan kondisi itu Zhang Da akhirnya menjadi tulang punggung keluarga.

Ia juga mengerjakan seluruh pekerjaan rumah termasuk merawat ayahnya. Memandikan, membersihkan kotoran, memasak, mencuci pakaian dan semua pekerjaan lain ia lakukan tanpa sedikit pun mengeluh. Meski ia harus mengerjakan banyak hal sendiri, tapi Zhang Da tidak mau meninggalkan sekolahnya.

Setiap pagi ia berjalan kaku menuju sekolahnya. Sering kali Zhang Da tidak sarapan di rumah, ia lebih sering memakan tumbuhan apa saja yang ia temui di jalan. Beruntung ia pintar memilih sehingga tidak pernah keracunan. Selain sekolah dan merawat ayahnya, Zhang Da juga harus memutar otak untuk mencari nafkah.

Jadilah ia menjadi tukang batu. Setiap hari, Zhang Da memanggul keranjang dan menjadi tukang pemecah batu. Uang yang ia dapatkan dari bekerja digunakan untuk membeli makanan dan obat ayahnya. Ternyata bukan hanya pekerja keras, Zhang Da juga cerdas. Ia tahu ayahnya harus selalu menerima suntikan secara rutin.

Tapi mereka jelas tidak bisa membayar jasa medis. Maka Zhang Da membeli buku cara menyuntik dan mempelajari cara memberikan suntikan rutin untuk sang ayah. Bayangkan, Zhang Da masih berusia anak-anak dan sanggup melakukan semua pekerjaan berat itu seorang diri.

Dengan kegigihan yang dilakukan Zhang Da, pada tahun 2006, pemerintah Nanjing, Provinsi Zhejiang memberikan penghargaan pada tokoh-tokoh nasional dan tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama penerima penghargaan, ada nama Zhang Da. Dia menjadi penerima penghargaan paling muda, saat itu usianya sudah 15 tahun.

Acara itu disiarkan secara nasional. Pembawa acara sempat bertanya pada bocah itu, kenapa ia mau berjuang dan berkorban, padahal dirinya masih anak-anak. Zhang Da menjawab, "Hidup harus terus berjalan, tidak boleh menyerah dengan melakukan kejahatan, terus melanjutkan hidup dengan penuh tanggung jawab karena hidup kita sudah dirancang oleh Sang Pencipta."

Pembawa acara kembali bertanya padanya, "Zhang Da apa yang kamu inginkan sekarang?". Zhang Da terdiam cukup lama menjawab pertanyaan itu.
"Saya mau ibu saya kembali. Ibu, kembalilah ke rumah, karena saya sudah bisa mandiri, saya juga bisa merawat ayah. Aku mohon, kembalilah ibu.." jawabnya dengan suara tercekat.

Jawaban itu pun sontak membuat penonton terdiam dan terharu. Mendengar permintaan itu, air mata penonton berjatuhan. Zhang Da tidak meminta perawatan kesehatan untuk ayahnya, dia tidak meminta rumah yang lebih layak, bahkan tidak meminta jaminan sekolah hingga kuliah. Walaupun Zhang Da telah berjuang sangat banyak dan sangat berat di usia yang masih kecil, bahkan telah memberi inspirasi banyak orang, Zhang Da tetaplah anak yang merindukan kasih sayang ibunya. Bahkan dengan kenyataan, sang ibu pergi meninggalkannya.

            Kawan, jadikan kisah ini sebagai pelajaran. Seharusnya kita malu jika masih banyak mengeluh akan hidup.Satu hal lagi, sebagai seorang ibu atau calon ibu, selalu berikan kasih sayang Anda untuk buah hati dan suami tercinta, dalam suka dan duka.